Berita 86


MENIKMATI PERMAINAN AIR PANTAI BATU KARAS

Posted: 11 Jul 2011 01:12 AM PDT



Pantai Batu Karas merupakan salah satu tempat obyek wisata di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat, yang menyuguhkan panorama laut yang asri. Selain itu bagi anda yang mengaku penggila olah raga surfing, jangan khawatir pasalnya disini para pengunjung bisa sepuasnya bermain surfing, bahkan bagi Anda para pemula akan siap didampingi oleh para intruktur khusus olah raga surfing

Pantai yang berjarak sekitar 130 kilometer dari pusat kota, selain menyuguhkan berbagai panorama alam pantai, serta berbagai permainan air seperti berselancar serta naik banana boat untuk menguji adrenalin.

Selain surfing, buggy, jetski, banana boat dan olahraga air lainnya, tempat ini juga cocok bagi mereka yang gemar bertualang. Batu Karas menawarkan kesempatan untuk kemping dan jelajah alam. Bagi mereka yang cukup bernyali, bisa menyewa penduduk lokal untuk menunjukkan Karang Nunggal - pantai terpencil yang memiliki bukit karang menjulang tinggi di bibir pantainya.

Untuk menghilangkan rasa lelah setelah bermain di pantai, tak jauh dari bibir pantai terdapat beberapa gazebo, yang siap memberikan kenyamanan dan melepas rasa lelah Anda. Dengan pemandangan langsung ke arah pantai, dijamin saat Anda duduk santai akan merasakan sensasi tersendiri.

Selain itu di Batu Karas anda bisa berbelanja berbagai macam pernak pernik serta pakaian khas pantai, tentunya dengan harga yang terjangkau bagi para pengunjung. Ada juga penginapan murah dengan tarif bermalam Rp 50.000 perkepala, sehingga sangat cocok untuk mereka yang berbulan madu.

Nah jika anda penasaran dan berniat mengisi liburan bersama keluarga, tidak ada salahnya anda mencoba dan berkunjung ke obyek wisata pantai batu karas ini. Banyak orang bilang pantai batu karas merupakan Bali-nya Jawa Barat.


MENGEJAR SUKSES DENGAN KERAJINAN PATUNG MINI TERAKOTA

Posted: 10 Jul 2011 06:16 PM PDT


Putus sekolah bukan berarti harus menganggur. Seperti yang dilakukan Kartono Adi, seorang pemuda warga Dusun Kedungwulan Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur yang membuat usaha pembuatan patung mini Terakota (kumpulan koleksi patung berbentuk tokoh prajurit_ yang berbahan baku dari tanah liat.

Pilihan berani dilakukan Kartono Adi, demi kemandiriannya dalam menjalankan sendiri usaha itu untuk menuju kesuksesan. Keahlian pemuda putus sekolah smk sebagai perajin patung mini Terakota dengan bahan tanah liat yang dibakar terbilang tak banyak dimiliki kalangan pematung di desanya.

Awalnya usai keluar dari bangku sekolah, pemuda 27 tahun ini menjadi karyawan di salah satu showroom pembuat patung lilin dan patung cor kuningan. Namun, lama kelamaan bahan baku lilin dan kuningan terus melonjak. Sehingga terpikir untuk membuat patung dengan bahan baku yang murah tapi menarik. Akhirnya dipilihlah tanah liat yang bahan bakunya dapat dicari di sekitar tempat tinggal Kartono Adi.

Untuk membuat patung Terakota dibutuhkan keahlian dan ketelatenan tinggi. Awalnya cetakan disiapkan dengan diolesi minyak goreng. Selanjutnya, tanah liat yang sudah diberi campuran kaulin, dimasukkan ke dalam cetakan hingga penuh.

Setelah cetakan penuh dengan tanah liat, dengan hati-hati cetakan dilepas, sehingga terbentuklah model patung yang kita inginkan. Selanjutnya patung disempurnakan dengan alat ukir. Proses inilah yang harus membutuhkan ketelatenan tinggi, salah sedikit saja patung bisa gagal dibuat.

Setelah kering, patung-patung tersebut dibakar dengan menggunakan kayu bakar dan dedaunan kering hingga berwarna kemerahan dan patung siap untuk dipasarkan.
Hingga saat ini, Kartono Adi memiliki lima belas macam patung mini berbahan tanah liat. Diantaranya patung raja Brawijaya, Tri Buana Tungga Dewi, Agastia, beberapa miniatur candi Majapahit dan motif hewan serta patung kepala Maha Patih Gajah Mada.

Untuk proses pamahatan, memang butuh keahlian tersendiri. Menurutnya, tak semua pemahat patung dari bahan batu bisa melakukannya. Letak kesulitan itu sendiri terletak pada motif yang berukuran sangat kecil. Sehingga butuh ketelitian untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Dari beberapa bentuk patung mini dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Lima Belas Ribu Hingga Dua Ratus Ribu Rupiah tergantung motif dan ukuran patung yang dibuat.

Hingga saat ini, usaha yang dilakukan Kartono Adi sudah berjalan empat tahun. Meski telah memiliki banyak bentuk patung mini dengan kualitas bagus, adi masih menemukan beberapa kendala. Diantaranya soal pemasaran.

Untuk pemasaran patung-patung Terakota hanya di titipkan di di koperasi balai pelestarian peninggalan Purbakala Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Karena dengan sistem titip produk itu rata-rata penghasilan perbulan mencapai Satu Juta Rupiah.


TIPAT KALAS, MAKANAN KHAS DESA WISATA UNGASAN

Posted: 10 Jul 2011 05:41 PM PDT



Menikmati makanan berbahan dasar ketupat (makanan dari beras yang dibungkus dalam anyaman daun kelapa), tidak saja dilakukan saat hari lebaran bagi umat muslim, tetapi bisa dilakukan kapan saja. Apalagi, bila makanan ketupat tersebut dikemas menjadi makanan khas dengan aroma khusus, seperti halnya tipat kalas, masakan khas Desa Ungasan, Kabupaten Badung Bali.

Bagi ibu-ibu rumah tangga di desa Ungasan, membuat makanan tipat (ketupat) kalas, yakni masakan khas desa wisata tersebut, tidaklah terlalu sulit. Hampir semua warga setempat memang mengakui dan menjadikan tipat kalas sebagai makanan khas desa Ungasan yang tidak ada di desa lainnya di bali.

Untuk membuat tipat kalas, memang cukup memerlukan waktu. Selain untuk merebus, tipatnya, juga membuat menu campurannya. Nah, menu campuran inilah yang disebut warga Ungasan sebagai kalas. Menu campuran ini bisa berbahan ikan laut maupun ayam serta sayur. Namun masyarakat Ungasan lebih memilih kalas dari bahan ikan laut.

Untuk mengolah ikan laut ada beragam cara.namun yang penting adalah dengan menggunakan santan atau parutan kelapa. Lalu yang tak boleh ketinggalan adalah kacang panjang untuk bahan sayuran.

Ikan laut kemudian di jadikan sebagai bahan adonan santan, seperti ikan kuah untuk nantinya disiramkan ke tipat yang sudah dipotong potong. Saat menyajikan pun, juga beraneka ragam. Mulai dari kuah kalas yang disiramkan ke ketupat, tetapi juga ada yang dibiarkan dan nantinya tipatnya yang dicolak colekkan ke kuah kalas tersebut.

Menurut warga Ungasan, tipat kalas ini, hampir selalu dibuat warga tiap ada perayaan upacara keagaman. Umumnya disuguhkan untuk makanan pagi hari.

Untuk mempercantik penampilan, tipat kalas bisa disuguhkan dalam sebuah dulang atau tempat banten atau sesajen bagi umat hindu. Tentu saja, dilengkapi dengan pernak pernik janur kuningnya.

Masakan tipat kalas memang tidak saja menarik warga setempat untuk mencoba merasakan sensasi aromanya, tetapi juga warga asing. Mereka pun mengaku baru pertama kali melihat proses pembuatan tipat kalas, meski sudah cukup lama tinggal di kawasan wisata Ungasan.


 
Top