Berita 86


GIRI KEDATON, JEJAK PESANTREN SUNAN GIRI

Posted: 02 Aug 2011 01:03 AM PDT



Kota Gresik Jawa Timur memiliki ikatan sejarah dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Terbukti, di kota Gresik terdapat sejumlah makam para penyebar agama Islam terkenal, seperti Fatimah Binti Maimun, Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Sebagian situs peninggalan Sunan Giri sendiri misalnya, hingga kini masih bisa di saksikan, meski kondisinya kurang sempurna.

Giri Kedaton atau Keraton Giri terletak di desa sido mukti kecamatan kebomas, Gresik. Bangunan yang berada pada sebuah bukit dengan ketinggian 200 meter tersebut terdapat tangga yang jumlahnya lebih dari 100. Pada pintu masuk kompleks Giri Kedaton, terdapat sebuah gapura serta pagar yang masih tersusun rapi yang terbuat dari bebatuan tua.

Berdasarkan informasi sejarah, tempat ini adalah pusat kegiatan dakwah raden paku dalam menyebarkan agam Islam pada abad ke 15 masehi. Karena tempatnya merupakan tanah dataran tinggi, maka tempat itu dinamakan Giri yang dalam bahasa sangsekerta mempunyai arti gunung. Raden paku pun akhirnya di kenal dengan sebutan Sunan Giri. Dipilihnya lokasi ini sebagai pusat kegiatan dakwah, berdasarkan petunjuk dari ayah Sunan Giri, Syech Maulana Ishak.

Giri Kedaton pernah menjadi pusat pemerintahan dengan status daerah istimewa di bawah kekuasan Kesultanan Demak Bintoro dengan Sunan Giri sebagai penguasa yang bergelar Prabu Satmoto.

Sunan Giri di angkat sebagai penguasa pada tahun saka 1409, tepatnya pada tanggal 9 Maret 1487 Masehi. Momentum pelantikan tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Gresik di jadikan sebagai hari jadi kota Gresik.

Di samping sebagai pusat pemerintahan, Giri Kedaton juga menjadi pesantren bagi para santri Sunan Giri yang berasal dari sejumlah daerah di tanah air. Namun, tak banyak bangunan yang tersisa dan bisa di saksikan saat ini kecuali bekas pondasi serta bekas tempat wudhuk para santi. "3 Kolam yang ada ini adalah bekas tempat wudhu' para santri", ujar Muhtar, Juru Kunci Giri Kedaton.

Sunan Giri sendiri wafat pada tahun 1506 dan di makamkan di sebuah bukti bernama bukit Giri gajah. Makam Sunan Giri berada pada sebuah bangunan atau cungkup berukuran 4 kali 6 meter persegi dengan hiasan ukiran kayu kuno yang mencolok.

Di dalam bangunan makam, masih tersimpan sebuah keris pusaka milik Sunan Giri bernama Keris Kala Munyeng, buatan Mpu Supo asal Kerajaan Mataram serta sebuah sajadah milik Sunan Giri.

Di bulan puasa seperti saat ini, makam Sunan Giri terus di kunjungi peziarah, meski jumlahnya menurun. Namun, pada malam 25 ramadhan nanti, puluhan ribu orang dari berbagai daerah akan memadati komplek pemakaman ini, untuk beribadah dan munajat.

Posisi makam Sunan Giri beserta Giri Kedaton yang berada pada 200 meter dari permukaan laut ini, memungkinkan para peziarah bisa melihat kota industri Gresik secara leluasa, termasuk aktifitas di pelabuhan Gresik.

Tingginya lokasi Giri Kedaton dan makam Sunan Giri serta sejumlah petilasan para wali lainnya, menunjukkan perhatian Sunan Giri pada dinamika masyarakat sekitar. Apalagi, Sunan Giri tak hanya menjadi wali dalam pemerintahan, tapi lebih dari itu, wali dalam bidang kerohanian.


SATE SUMSUM, MAKANAN KHAS BERBUKA PUASA

Posted: 01 Aug 2011 08:51 PM PDT


Bulan puasa ternyata membawa berkah bagi vira, ibu muda Asal Kampung Wanasari, Jalan Ahmad Yani Kecamatan Kota Denpasar Bali. Saat bulan Ramadhan seperti sekarang, vira selalu menjual menu khasnya, yakni sate sumsum sapi. Memang, vira hanya menjual sate sumsum pada bulan Ramadhan saja. Usaha ini sudah di lakoninya sejak lima tahun silam.

Untuk membuat sate sumsum memang sedikit berbeda dibandingkan sate umumnya. Bahan sumsum didapatkan vira dari sejumlah rumah potong hewan di denpasar. Sumsum
adalah irisan daging yang ada di bagian tulang. Selanjutnya, sumsum direbus dengan bumbu Bali, yakni bumbu rempah-rempah lengkap. Tujuannya, agar ada rasa di daging sebelum nantinya disate.

Setelah menajdi setengah matang, sumsum dipotong dan ditusuk barulah dibakar. Untuk penyajiannya, bisa dicampur dengan bumbu kacang atau bumbu kecap. Jadi bedanya memang ada dua kali bumbu sehingga sate ini benar benar lebih beraroma dan nikmat.

Selama bulan Ramadhan, vira mulai berjualan sejak pukul tiga sore. Meski demikian, pengunjung yang sudah rutin membeli sate sumsum tiap Ramadhan, telah datang sebelumnya. Jumlah pengunjung makin ramai, bila jelang buka puasa tiba. Dalam satu jam, dua kilogram daging sate sumsum telah habis terjual.

Rata-rata pembeli mengaku ingin berbuka dengan makanan khas kampung wanasari ini, sehingga mereka rela datang dari jauh untuk membeli sate sumsum ini.

Satu sate sumsum dijual seharga Dua Ribu Rupiah per tusuk. Mengingat cukup sulit mendapatkan sumsum sapi. Seharinya, vira bisa mendapatkan hasil jualan hingga Tiga Ratus Ribu Rupiah.


LELE BUMBUNG, KULINER KHAS KAWASAN WISATA GUNUNG MURIA

Posted: 01 Aug 2011 04:07 PM PDT



Makan lele penyet mungkin sudah biasa, namun pernahkan anda merasakan nikmatnya lele yang dimasak didalam bambu? Ya, namanya lele bumbung, yakni masakan ikan lele beserta bumbu dimasukan kedalam bambu, sehingga menimbulkan sensasi rasa yang unik. Menu penuh sensasi rasa ini,bisa di jumpai di Kedai Makan Puri Kajar yang terletak di tepi jalan menuju puncak Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah.

Memasak menu tradisional ini tidaklah sulit. Bumbu-bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, lombok, kemiri, kunir, kapulogo, tumbar, daun jeruk, dan kayu manis, dijadikan satu lalu dihaluskan. Kemudian bumbu tersebut dicampurkan dengan lele utuh dan dipepes dengan daun pisang. Pepesan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bumbung atau bambu, dan ditutup dengan daun pisang.

Bumbung berisi pepes ikan lele kemudian di kukus selama lebih kurang 30 menit. Jika ingin aromanya lebih kuat lagi, bisa kemudian dipanggang di atas bara lagi selama lebih kurang 7 menit.

Dengan kata lain, proses pembuatanya hampir sama dengan di pepes, namun bedanya, lele yang terbungkus daun dimasukan ke dalam bambu. Setelah di kukus selama tiga puluh menit, lele bumbung bisa dinikmati.

Menurut para penikmatnya, meskipun hanya dengan nasi putih, namun tidak mengurangi kenikmatan menyantap lele bumbung. Pasalnya masakan lele bumbung, bumbunya lebih terasa dibandingkan di masak dengan cara goreng atau yang lain.

Harga untuk satu porsi lele bumbung cukup terjangkau, yaitu hanya Tujuh Belas Ribu Rupiah. Harga tersebut tak sebanding dengan sensasi rasa yang bisa di dapat dari menu masakan tradisional khas pengunugan Muria.


 
Top